30
Apr
07

Profil Seputar Maluku

BUDAYA  |  NUNUSAKU  |  RITUAL  |  PELA-GANDONG |  ADAT  | >>

 

Hello rekan-rekan milis yang ada disekitar AMBON Manise beta sebagai Marinyo desa datang kepada anda untuk mau menyampaikan info Hoot kepada basudara bahwa kalau kita selalu belajar Komputer [www.komputeraktif.com] setiap saat, setiap waktu maka kita akan menjadi pintar . Bagusnya cara belajar sudara, lebih spesifikasi kepada masing-masing bidang (maksud beta , contohnya! beta lebih spesifik kepada pembuatan Design Web agar belajar katorang lebih terarah dan lebih baik kedepan) supaya katorang jangan dikatakan orang Amatiran.

 

 

Tauri subabunyi

 

SEKILAS TENTANG KEMAJUAN TEKNOLOGI INFORMASI DIMALUKU

 

Permasalahan Teknologi Informasi di Tanah Maluku pada saat ini boleh dikatakan menggembirakan dan kemajuannya mengalami sedikit proses keterlambatan, dikarenakan Maluku baru saja pulih dari konflik. Kenapa dikatakan demikian karena kalau basudara lihat sendiri dengan adanya perkembangan toko-toko komputer serta warnet yang mulai tumbuh baik dan diselingi dengan persaingan harga. Beta sebagai Anak Maluku yang cinta akan pengembangan IT di Maluku bisa berharap banyak dari katong pung bapak-bapak di Pemerintahan provinsi serta yang sangat diperlukan adalah adanya satu suara dari masyarakat Maluku sandiri dengan mengatakan “Mendukung pengembangan IT di Maluku”.

 

 

IT Maluku

 

“Barangkali sudah saatnya pemahaman tentang peran dan fungsi teknologi informasi (TI) di Maluku harus didekonstruksi. Anda tidak harus setuju dengan pemikiran saya. Karena jika Anda 100% setuju, maka sebenarnya tidak ada yang perlu didekonstruksi!!”

Beta sangat salut deng beta punya bapak Mauritz Wattimena yang antua ada di [Balagu.com].Kanapa sampe beta salut dengan antua punya tekad, karena antua merasa sangat prihatin dengan ketertinggalan IT di Maluku bila dibandingkan dengan daerah-daerah lain yang ada di Nusantara ini. Oleh karena itu beta sebagai anak Maluku merasa terpanggil untuk bajalang sama-sama antar antua punya balakang untuk mewujudkan sebuah mimpi yang harus katorang karja karas sama-sama untuk mewujudkannya. Deng semangat orang basudara Salam-Sarani Maluku dalam bingkai Siwalima Sebagai FALSAFAH hidup anak-anak Alif’uru maka beta mo ajak Jujaro deng Mungare samua mari deng katong pung semboyan “Lawamena Haulala” Maju terus Pantang Menyerah mari katong samua satu suara voor dukung akang pengembangan Komputer dan Internet di tanah Datuk-datuk ini. “Katorang jang hanya diam lalu baharap nanti kong ada Universitas komputer deng internet yang murah akang hadir di katong pung tanah Siwalima ini kalau katorang sandiri sebagai anak-anak Alif’uru sandiri seng biking satu gebrakan voor Pemerintah Pusat deng katong pung bapa-bapa di pemerintahan daerah. Beta jo su tau kalo budaya pamalas deng panakotang akang ada di katong pung Jujaro mungare Mal”SEJARAH MALUKU
Kepulauan Maluku memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan tidak dapat dilepaskan dari sejarah dunia secara keseluruhan. Kawasan kepulauan yang kaya dengan rempah-rempah ini sudah dikenal di dunia internasional sejak dahulu kala. Pada awal abad ke-7 pelaut-pelaut dari daratan Cina, khususnya pada zaman Dinasti Tang, kerap mengunjungi Maluku untuk mencari rempah-rempah. Namun mereka sengaja merahasiakannya untuk mencegah datangnya bangsa-bangsa lain kedaerah ini.

Alif'uru Native

abad ke-9 pedagang Arab berhasil menemukan Maluku setelah mengarungi Samudra Hindia. Para pedagang ini kemudian menguasai pasar Eropa melalui kota-kota pelabuhan seperti Pada Konstatinopel. Abad ke-14 adalah merupakan masa perdagangan rempah-rempah Timur Tengah yang membawa agama Islam masuk ke Kepulauan Maluku melalui pelabuhan-pelabuhan Aceh, Malaka, dan Gresik, antara 1300 sampai 1400.Dimasa Dinasti Ming (1368 ? 1643) rempah-rempah dari Maluku diperkenalkan dalam berbagai karya seni dan sejarah. Dalam sebuah lukisan karya W.P. Groeneveldt yang berjudul Gunung Dupa, Maluku digambarkan sebagai wilayah bergunung-gunung yang hijau dan dipenuhi pohon cengkih ? sebuah oase ditengah laut sebelah tenggara. Marco Polo juga menggambarkan perdagangan cengkih di Maluku dalam kunjungannya di Sumatra.

Pela-Gandong antara Masyarakat Maluku “Salam-Sarani”


Pada suatu ketika, lambat atau segera kedengaran istilah ‘hubungan pela’ dalam pertjakapan2 dangan orang2 Maluku; dan tak djarang pembitjara malukku menganggap bahwa semua orang lain tahu menahu tentang pela itu. Seolah-olah dengan tiada sadar pembitjara itu mempunjai anggapan jang sedemikian itu, karena ‘hubungan pela’ itu merupakan perkara penting dalam masjarakatnja. Tegal itu dengan muda terlupakan olehnja bahwa orang bukan muluku tjuma paham sedikit atau sama sekali tidak tahu menahu tentang pokok itu. Nah, djikalau saudara pembatja tidal tahu banjak tentang pela itu dan mempunjai interesse terhadap pokok itu, silakan landjutkanllah pembatjaan ini. Pada halaman berikut ini saja hendak berusaha untuk memberi suatu ichtisar singkat tentang lembaga sosial maluku jang sangat menarik ini.

 

 

Pela Gandong

  Pela-gandong Masyarakat maluku

 

TENTANG SIWALIMA

 

Siwalima

 Siwalima adalah Falsafah kebudayaan Maluku

Dalam gerakan tari, unsur Siwa Lima terlihat dalam tari Gaba-gaba. Tari ini dibawakan oleh satu penari dan empat pemegang galah suta dan sembilan penari Cakalele. Iringannya adalah Tifa. Tari ini menggambarkan sikap pertahanan dari serangan musuh. Ditampilkan pula Tari Maku/Maru yang ditarikan oleh sembilan penari yang mengandung doa untuk keselamatan dan kesejahteraan.
Untuk Papua kita punya legenda lain. Di daerah Wawuti Rivoi, Yapen Timur terdapat Gunung Kambai Rama. Gunung itu tempat Dewa Iriwonawai berdiam. Ia mempunyai gendang gaib bernama Sokirei atau Soworoi.
Gendang itu bila ditabuh menghasilkan suara menggelegar yang mengundang masyarakat ingin menari dan berpesta. Hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki indera keenam dapat melihat wujud gendang Sokirei/Soworoi.
Lanjut>>
CAKALELE & OBOR PATTIMURA

“BANGSA yang besar adalah bangsa yang selalu mengenang jasa pahlawannya”. Demikian ungkapan yang biasa dilontarkan oleh sebuah pepatah kuno kepada masyarakat guna senantiasa mengenang semangat juang pahlawan yang rela mengorbankan jiwa-raganya dalam melawan bangsa penjajah.
Setiap tanggal 15 Mei, di Maluku pemerintah bersama rakyat setempat melakukan prosesi adat dan kebangsaan dalam memperingati hari Pattimura. Yang paling terkenal adalah lari obor dari Pulau Saparua menyebrangi lautan menuju Pulau Ambon, untuk selanjutnya diarak-arak sepanjang 25 kilometer menuju kota Ambon.Prosesi ini diawali dengan pembakaran api obor secara alam di puncak Gunung Saniri di Pulau Saparua. Gunung Saniri adalah salah satu ritus sejarah perjuangan Pattimura karena di tempat itulah, awal dari perang rakyat Maluku melawan Belanda tahun 1817.
Dalam sejarahnya, di Gunung Saniri berkumpul para Latupati atau Raja-Raja dan tokoh masyarakat Pulau Saparua. Mereka melakukan Rapat Saniri (musyawarah raja-raja) untuk menyusun strategi penyerangan ke Benteng Durstede di Saparua yang dikuasai Belanda. Thomas Matulessy dari desa Haria lantas diangkat sebagai Kapitan atau panglima perang dengan gelar Pattimura.

Penyerangan rakyat ke benteng Durstede melalui Pantai Waisisil tidak menyisahkan satupun serdadu Belanda termasuk Residen Belanda Van de Berk dan keluarganya. Semuanya tewas terbunuh dan yang hidup hanyalah putra Van de Berk yang berusia lima tahun. Dia diselamatkan oleh Pattimura. Belakangan, putra Van de Berk ini diserahkan kembali kepada pemerintahan Belanda di Ambon.
Dari penyerangan inilah api perjuangan terus dikobarkan. Kemenangan Pattimura yang berhasil menjatuhkan Benteng Durstede menjadi inspirasi kepada rakyat lainnya untuk angkat senjata melawan Belanda. Peperangan pun terjadi hampir di seluruh daerah di Maluku. Dalam perjalanannya, Pattimura dan rekan-rekannya berhasil ditangkap oleh Belanda lewat siasat liciknya. Mereka diputuskan oleh Pengadilan di Ambon dengan hukuman mati.

Semangat juang Kapitan Pattimura masih menjadi inspirasi dan spirit bagi masyarakat Maluku hingga kini. Ketokohan Pattimura yang akhirnya dihukum gantung masih menjadi kenangan yang terus diingat oleh masyarakat Maluku. Karena semangat dan perjuangan Kapitan Pattimura bukan berjuang untuk orang lain yang bukan bagian integral dari Masyarakat maluku, karena Tahun 1819 perjuangannya membebaskan orang maluku dari penjajah Belanda dan semangatnya itu pula harus ditedani oleh orang Maluku untuk membebaskan tanah ini dari segala bentuk penjajahan.””

Perayaan hari Pattimura menyemut di sekitar Monumen Tugu Pattimura di Lapangan Merdeka. Di tempat inilah, Pattimura dihukum gantung oleh Belanda. Kedatangan warga dari berbagai pelosok ini guna menyaksikan prosesi lari obor Pattimura dan pembakaran api Pattimura oleh Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu di tempat gantungan Pattimura tersebut. Pantauan Radio Vox Populi di Ambon, warga yang hadir saat itu dari berusia 5 tahun yang dibawah orang tuanya, hingga yang sudah lanjut usia. Mereka datang untuk melihat pemuda-pemuda Ambon membawa obor Pattimura. Warga berbaur jadi satu mensesaki tiga ruas jalan di sekitar kawasan itu.“Beta (saya) sengaja membawa anak saya Mervin yang berusia 5 tahun, untuk memperlihatkan semangat Pattimura yang ditunjukan oleh pemuda-pemuda sekarang sewaktu lari obor,” kata Ny. Juli Wattimena, salah satu pegawai kantor pemerintah di Ambon kepada Radio Vox Populi. Next>>

Gubernur Maluku: Menurun, Pemahaman Budaya Lokal Maluku

SAAT ini pemahaman generasi muda Maluku terhadap nilai budaya, yang dimiliki semakin menurun. Bahkan telah terkontaminasi budaya dari luar. Masalah tersebut jika dibiarkan berlarut-larut, dan mengakibatkan Maluku kehilangan identitas budayanya. Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu menyampaikan hal tersebut, dalam sambutan tertulisnya, dibacakan Kepala Bagian Kepegawaian Dinas Parisawata Maluku Andi Mappa, saat membuka pagelaran upacara adat Maso–Minta yang digelar masyarakat negeri Nusaniwe di Ambon.

Budaya maso-minta orang Maluku ini, tidak kalah indahnya dengan budaya serupa dari daerah lain. Di dalam ritual adat tersebut, tedapat sejumlah nilai dan pesan penting yang harus diketahui dan dipakai oleh masyarakat saat ini.

Budaya ini, juga dapat difungsikan sebagai sarana berinteraksi secara efektif dan tertib di dalam kehidupan sehari-hari. “Saya mengajak kita semua untuk menghadapi derasnya terpaan budaya asing, yang mempengaruhi kehidupan kita dewasa ini. Kita harus berupaya untuk menciptakan ruang gerak yang semakin memungkinkan. Salah satu contah seperti seni pagelaran budaya lokal ini,” tandas Ralahalu.

MAJELIS LATUPATI MALUKU


0 Tanggapan ke “Profil Seputar Maluku”


  1. Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Anda harus login untuk menuliskan komentar.




Kalender

April 2007
S S R K J S M
    Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

LINK PROFIL

Kategori Awan

Arsip Bulanan

Gambar Pendukung

More Photos

Jumlah Pengunjung

  • 30,010 hits