Oleh dolfis

KHASANA BUDAYA ORANG MALUKU

 

 

TENTANG SIWALIMA 

Negeri Seribu Pulau adalah sebutan untuk Maluku. Di sana tersimpan pula 1.000 pesona dari aneka adat dan istiadatnya yang terbingkai dalam filosofi Siwa Lima.
Siwa Lima adalah “jati diri” dalam budaya Maluku. Ditilik dari bahasa, siwa berarti sembilan dan lima/rima artinya lima. Makna filosofis kata ini dikenal di seluruh Maluku, walaupun dengan sebutan yang berbeda.Di Maluku Utara dikenal Ulisiwa dan Uli Lima. Maluku Tengah menyebutnya Pata Siwa dan Pata Lima. Maluku Tenggara menggunakan kata Ur Siwa (Ursiw) dan Ur Lima (Urlim).

Dalam gerakan tari, unsur Siwa Lima terlihat dalam tari Gaba-gaba. Tari ini dibawakan oleh satu penari dan empat pemegang galah suta dan sembilan penari Cakalele. Iringannya adalah Tifa. Tari ini menggambarkan sikap pertahanan dari serangan musuh. Ditampilkan pula Tari Maku/Maru yang ditarikan oleh sembilan penari yang mengandung doa untuk keselamatan dan kesejahteraan.
Untuk Papua kita punya legenda lain. Di daerah Wawuti Rivoi, Yapen Timur terdapat Gunung Kambai Rama. Gunung itu tempat Dewa Iriwonawai berdiam. Ia mempunyai gendang gaib bernama Sokirei atau Soworoi.
Gendang itu bila ditabuh menghasilkan suara menggelegar yang mengundang masyarakat ingin menari dan berpesta. Hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki indera keenam dapat melihat wujud gendang Sokirei/Soworoi.

 

 

Siwalima-Nunusaku

Siwalima adalah Falsafah dari kebudayaan Adat Maluku

 

Wilayah kekuasaan Dewa Iriwonawai sangat luas dan banyak menghasilkan sagu, terutama di desa Arumpi. Sagu ini menjadi makanan pokok penduduk sekitar. Agar sagu tidak habis, maka penduduk dipindahkan ke pantai.
Tinggallah sepasang suami-istri, Irimiami dan Isoray. Mereka menemukan batu keramat yang dapat menghasilkan api. Dari batu keramat itulah \”Bahar Batu\” bermula hingga kini. Ajaibnya makanan, mulai dari binatang buruan kecil dan umbi-umbian dapat matang jika diletakkan di atas batu keramat itu.
Maka setiap bulan purnama, selama tiga hari tiga malam penduduk Kambai Rama mengadakan pesta di Batu Keramat Irimiami dan Isoray. Mereka sambil menari mengelilingi batu, diiringi musik gaib Sokirei menikmati hasil alam. Pesta itu bagaikan lukisan pesta surga yang dilakukan sampai terbit matahari pagi. (Sumber: www.hupelita.com/baca.php?id=28576 ).

Nilai-nilai sosial budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Maluku merupakan salah satu modal dasar bagi peningkatan persatuan dan kesatuan termasuk menyemangati masyarakat dalam melaksanakan pembangunan di daerah ini. Hubungan-hubungan kekerabatan adat dan budaya harus terus didorong sehingga dapat menciptakan sinergitas yang andal bagi upaya bersama membangun Maluku Baru di masa mendatang. Pendukung kebudayaan di Maluku terdiri dari ratusan sub suku, yang terindikasi dari pengguna bahasa local yang diketahui masih aktif dipergunakan sebanyak 117 dari jumlah bahasa lokal yang pernah ada kurang lebih 130 bahasa lokal. Meskipun masyarakat di daerah ini mencerminkan karakteristik masyarakat yang multi kultur, tetapi pada dasarnya mempunyai kesamaan-kesamaan nilai budaya sebagai representasi kolektif. Salah satu diantaranya adalah filosofi siwalima yang selama ini telah melembaga sebagai world view atau cara pandang masyarakat tentang kehidupan bersama. Dalam filosofi ini, terkandung berbagai panata yang memiliki common values dan dapat ditemukan di seluruh wilayah Maluku. Sebutlah pranata budaya seperti Masohi, maren, swen, sasi, hawear, pela-gondong dan lain sebagainya. Adapun filosofi siwalima dimaksud telah menjadi simbol identitas daerah, karena selama ini sudah menjadi logo dari Pemerintah Daerah Maluku. Siwalima adalah fisafat hidup yang holistic; filsafat itu pernah ada, dan senantiasa hidup dalam peradaban masyarakat Maluku.

Siwalima adalah pendekatan yang mempunyai posisi sentral dalam suatu susunan pendekatan yang berwatak jamak. Artinya, hanya di dalam pendekatan Siwa Lima, pendekatan-pendekatan lainnya dimodulasikan dan berproses secara utuh dan dinamis untuk merencanakan, rakyat di daerah Maluku, kemarin, hari ini dan yang akan datang. Dalam konteks pembangunan daerah nilai-nilai budaya lokal yang masih ada dan hidup di kalangan masyarakat, dapat dipandang sebagai modal sosial yang perlu dimanfaatkan bagi kepentingan pembangunan daerah. Filsafat Hidup Masyarakat Setempat Manggurebe maju, lawamena hau lala, artinya bersatu membangun Maluku maju terus pantang mundur. Katong samua satu gandong satu jantung dan satu hati, artinya kita semua sekeluarga/saudara. (Sumber:http://www.depdagri.go.id).

 

 

RUMAH ADAT (Baeleo)

Jika anda memasuki satu desa atau kampung di Maluku, salah satu hal yang segera nampak menonjol adalah satu bangunan yang berbeda dengan kebanyakan rumah penduduknya. Bangunan ini biasanya berukuran lebih besar, dibangun dengan bahan-bahan yang lebih baik, dan dihias dengan lebih banyak ornamen. Karena itu, bangunan tersebut biasanya sekaligus juga merupakan marka utama (landmark) kampung atau desa yang bersangkutan, selain mesjid atau gereja.Bangunan itu adalah rumah adat yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda suci, tempat upacara adat, sekaligus tempat seluruh warga berkumpul membahas masalah-masalah yang mereka hadapi. Di Maluku, disebut sebagai “Baileo”, secara harafiah memang berarti “balai”. Baileo Maluku menggunakan istilah “baileo” sebagai namanya, karena memang dimaksudkan sebagai “balai bersama” organisasi rakyat dan masyarakat adat setempat untuk membahas berbagai masalah yang mereka hadapi dan mengupayakan pemecahannya.

 

baeleo

Baeleo merupakan salah satu rumah adat asal Maluku

 

Batu Pamali, sebuah batu besar tempat meletakkan sesaji di muka pintu sebuah bangunan di Maluku merupakan tanda bahwa bangunan tersebut adalah Balai Adat. Baileu atau Balai Adat inilah yang menjadi bangunan induk Anjungan. Sembilan tiang di bagian depan dan belakang, serta lima tiang di sisi kiri dan kanan merupakan lambang Siwa Lima, simbol persekutuan desa-desa di Maluku yang telah ada sejak berabad-abad yang lalu.

 

dalam memperkenalkan daerahnya menampilkan bangunan Bailem dan rumah Latu atau rumah raja. Bertindak sebagai sreitek adalah Kepala adat di seluruh daerah Maluku, dan dibangun pada tahun 1974 dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 17 April 1975. Bangunan Bailem ini merupakan satu-satunya bangunan peninggalan yang menggambarkan kebudayaan siwa-lima, karena itulah dipilih sebagai bangunan yang dapat mewakili daerah propinsi Maluku. Di samping kedua bangunan tradisional tersebut, anjungan Maluku dilengkapi dengan dua buah patung pahlawan wanita Martha Christina Tiahahu dan patung pahlawan Pattimura atau Thomas Matulessy, sebuah kolam yang menggambarkan kebon laut Maluku, dan patung proses pengolahan sagu.

Bangunan bailem sebagai bangunan induk aslinya tidak berdinding dan merupakan rumah panggung, yakni lantainya tinggi di atas permukaan tanah. Adapula bailem yang lantainya di atas batu semen dan bailen yang lantainya rata dengan tanah. Di antara ketiga macam bailen ini yang paling lazim dan paling khas adalah yang lantainya dibangun di atas tiang. Jumlah tiangnya melambangkan jumlah klen-klen yang ada di desa tersebut. Bailen ini tidak berdinding mengandung maksud roh-roh nenek moyang mereka bebas masuk keluar bangunan tersebut. Sedang lantai bailen dibuat tinggi dimaksudkan agar kedudukan tempat bersemayam roh-roh nenek moyang tersebut lebih tinggi dari tempat berdiri rakyat di desa itu. Selain rakyat akan mengetahui bahwa permusyawaratan berlangsung dari luar ke dalam dan dari bawah ke atas.

Di depan bailen di dekat pintu masuk dan beilen terdapat pamali yang berfungsi sebagai tempat persembahan dan bilik pamali sebagai tempat penyimpanan atau tempat meletakkan barang-barang yagn dianggap suci pada saat diadakan upacara. Bentuk bailen yang ada di Taman Mini Indonesia Indah adalah bentuk bailen yang terakhir atau yang baru yang melambngkan persatuan atau persekutuan antara dua klen besar di Maluku yaitu Pata Siwa dan Pata Lima. Hal ini melambangkan jumlah pada tiang bailen di bagian muka dan belakang berjumlah 9 yang sama dengan siswa dan samping kiri dan kanan berjumlah 5 yang sama dengan lima. Akhir kata siwa lima mampunyai arti baru yaitu: Kita semua punya dan menjadi lambang persatuan daerah Maluku.

Fungsi dari Bailen adalah untuk tempat bermusyawarah dan pertemuan rakyat dengan dewan rakyat seperti saniri negeri, Dewan adat dan lain-lain. Jadi sistem demokrasi sudah dikenal oleh rakyat lima-siwa sejak dulu. Yang boleh disimpan dalam bailen berupa benda-benda yang dianggap suci dan ada hubungan dengan upacara adat. Selain itu juga terdapat satu buah atau musyawarah antara rakyat dan saniri neheri dan tua-tua adat.

Di anjungan Maluku, Bailen berfungsi sebagai tempat pameran dan peragaan berbagai barang dari aspek budaya Maluku. Di antaranya dapat dilihat berbagai pakaian daerah yaitu pakaian dari Maluku Utara, pakaian pengantin Maluku Tengah yaitu pakaian Pono, pakaian Sanikin yaitu pakaian pengantin Maluku Tenggara, pakaian sehari-hari yang disebut baju cele, kebaya putih untuk pertemuan, celana Makasar untuk pria Maluku Tengah dan lain-lain. Kemudian senjata tradisional seperti parang dan sala-waktu yaitu perisai, tombak, panah dan pandan, dari pelepah sagu dan lain-lain, dan yang khas adalah kerajinan dari cengkeh berupa perahu dan benda-benda lainnya.

Di bagian lain dapat disaksikan diorama tentang keindahan alam, deretan dengan berjenis-jenis tumbuhan dokombinasikan dengan fauna seperti Cenderawasih, kausari, soa-soa dan kuskus. Keindahan lautan Maluku dipamerkan dengan berjenis-jenis kerang, beraneka ragam tumbuhan laut dan dilengkapi dengan bentuk-bentuk perahu seperti krumbai, perahu semang, alat penagkap ikan contoh rakit untuk proses peternakan mutiara dilakukan di Maluku Tenggara dilengkapi dengan inti mutiara.

Pada bangunan Bailen terdapat hiasan yang menggambarkan dua ekor ayam berhadapan, dan diapit oleh dua ekor anjing di sebelah kiri kanan. Hiasan ini terdapat di ambang pintu yang mengandung toh nenek moyang. Jadi hiasan ii mempunyai arti lambang kedamaian dan kesentosaan, karena kehidupan dijaga oleh roh nenek moyang. Kemudian di bawah plang atap terdapt bulan, bintang dan matahari dengan warna merah-kuning dan hitam. Hiasan ini merupakan lambang kesiap-siagaan balai adat dalam menjaga kutuhan adat beserta hukum adatnya.

Bangunan kedua adalah rumah Raja atau rumah latu, yaitu rumah kepala desa yang merupakan bangunan yang termasuk dan terindah di desa, dan dibangun secara gotong royong. Bangunan dengan bentuk segi empat, mempunyai serambi yang berfungsi untuk menerima tamu, ruangan tengah untuk menerima tamu wanita, sedangkan kamar-kamar untu tempat tidur dam ruang belakang sebagai tempat makan, duduk-duduk dan dapur tempat memasak. Bahan sebagian besar dari gaba-gaba. Di anjungan rumah latu sebagai kantor anjungan. (sumber:www.tamanmini.com)


0 Tanggapan ke “Budaya Maluku”


  1. Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Anda harus login untuk menuliskan komentar.




Kalender

Juli 2008
S S R K J S M
« Mei    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

LINK PROFIL

Kategori Awan

Arsip Bulanan

Gambar Pendukung

More Photos

Jumlah Pengunjung

  • 30,010 hits