Oleh dolfis

SAGU SUMBER KARBOHIDRAT


BAGI sebagian masyarakat Indonesia seperti penduduk di Papua dan Maluku, sagu merupakan pangan utama sedari dulu. Namun politik beras ala Orde Baru telah meminggirkan beraneka ragam produk pangan nasional sehingga mendorong beras menjadi satu-satunya pangan utama. Waktu membuktikan, kebijakan semacam itu membuat bangsa yang memiliki beragam latar budaya dan etnis ini memiliki kebergantungan yang teramat besar pada beras. Data Badan Pangan Dunia (FAO) menunjukkan, saat ini dari seluruh beras yang beredar di pasar dunia, 80 persennya diserap oleh Indonesia. Dalam konteks ketahanan pangan, inilah saatnya kita kembali mengembangkan beragam jenis pangan baik sebagai pangan alternatif maupun sebagai pangan pokok. Namun tentu saja dibutuhkan sentuhan teknologi agar upaya tersebut menjadi sesuatu yang menarik bagi pasar. Demikian dikatakan Ahli Peneliti Utama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Dr Nadirman Haska, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Balai Pengkajian Bioteknologi BPPT. Sagu sebagai penghasil pati dan karbohidrat bisa dikembangkan menjadi aneka produk bernilai ekonomi tinggi. Selain sebagai bahan campuran bagi soun, mie dan kerupuk, sagu juga dibutuhkan bagi industri tekstil, kertas, dan juga industri kosmetika. Berdasarkan data Perhimpunan Pendayagunaan Sagu Indonesia (PPSI), produksi sagu nasional saat ini mencapai 200.000 ton per tahun atau baru mencapai sekitar 5 persen dari potensi sagu nasional. Rendahnya produksi nasional juga diakibatkan oleh teknologi pemanfaatannya masih sangat sederhana dan tradisional. Bahkan cara-cara penebangan yang dilakukan mengancam kelestarian tanaman sagu itu sendiri, ujar Nadirman. Padahal teknologi budi daya sagu tergolong mudah dan sederhana serta lebih ekonomis dibandingkan budi daya kelapa sawit atau padi. Setiap batang sagu mengandung sekitar 200 kg sagu sehingga setiap hektare tanaman sagu memproduksi 20-25 ton per hektare. Tanaman sagu sendiri mulai bisa dipanen setelah berumur 10 tahun dan setelah itu yang dilakukan hanyalah pemeliharaan saja. Setiap tahun akan tumbuh tunas dan anakan baru dengan tingkat produksi yang juga tinggi. Dengan begitu, secara ekonomi, nilai ekonomi budi daya sagu cukup tinggi. Yang diperlukan saat ini adalah teknologi pengolahan untuk menghasilkan beragam produk berbahan baku sagu, ujar Nadriman.

 



 


0 Tanggapan ke “Manfaat Sagu”


  1. Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Anda harus login untuk menuliskan komentar.




Kalender

Juli 2008
S S R K J S M
« Mei    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

LINK PROFIL

Kategori Awan

Arsip Bulanan

Gambar Pendukung

More Photos

Jumlah Pengunjung

  • 30,035 hits