PATI TANAMAN SAGU DAPAT DIGUNAKAN SEBAGAI BAHAN BAKU KEMASAN OBAT

Pohon Sagu (Metroxylon sp.) yang berasal dari Maluku
Industri farmasi nasional dapat mengurangi ketergantungan impor bahan baku kemasan obat hingga 2.000 ton per tahun, jika bersedia memanfaatkan pati tanaman sagu. Deputi Kepala Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Wahono Sumaryono mengatakan pati tanaman sagu dapat diolah menjadi bahan baku pembuat kemasan obat sehingga ketergantungan impor dapat ditekan. Setiap tahun, katanya, produsen obat di dalam negeri mengeluarkan biaya sekitar Rp24 miliar untuk mengimpor kemasan tablet tersebut. “Untuk memproduksi kemasan itu dibutuhkan berbagai macam bahan baku di antaranya bahan untuk merapatkan lubang-lubang yang selalu ada dalam proses akhir produksi yang disebut juga dengan istilah failure,” ujarnya pada seminar nasional sagu dan palma dan pendayagunaannya sebagai bahan cadangan pangan dan bahan baku industri, pekan lalu. Ketergantungan impor, kata dia, terhadap produk itu disebabkan karena banyak produsen farmasi yang enggan untuk memproduksinya. Selain masalah ketergantungan bahan baku juga rendahnya teknologi pengolahan yang digunakan. Wahono menerangkan kebutuhan terhadap kemasan itu setiap tahun akan terus meningkat seiring pertumbuhan industri farmasi, karena itu potensi pasar harus diraih oleh produsen nasional. Sebagai institusi yang ditugaskan untuk menghasilkan teknologi, kata dia, maka BPPT siap untuk diajak bekerja sama dengan industri. BPPT, katanya, telah berhasil menciptakan teknologi pengolahannya namun karena keterbatasan wewenang yang dimiliki, maka tidak dapat mengkomersialkannya. Wahono mengatakan selain dapat dimanfaatkan di sektor farmasi, pati tanaman sagu juga dapat digunakan dalam proses produksi tekstil dan produk tekstil (TPT) dan kantong plastik. “Potensi tanaman sagu di Indonesia sangat banyak sekali, sekitar 30 juta hektare dan satu pohon dapat menghasilkan sekitar 600 kilogram pati, dan semua potensi yang dihasilkan tidak sepenuhnya dimanfaatkan dengan optimal,” tuturnya. Dia mengatakan selama ini tanaman sagu identik dengan tanaman pangan masyarakat Kawasan Timur Indonesia (KTI), dan itu juga tidak diolah dengan baik hanya sederhana saja. Menurut dia, harus ada grant design yang berisi tentang pemetaan potensi hutan sagu berikut juga varietasnya yang diikuti juga komitmen dari pemerintah untuk mengolahnya.
BPPT ADAKAN SEMINAR NASIONAL SAGU DAN PALMA PENGHASIL KARBOHIDRAT
Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah dan merupakan keuntungan komparatif di banding negara-negara lain, namun pemberdayaan potensi ini terutama sagu dan jenis palma lainnya seperti aren, sagu baruk, gebang, kelapa sawit dan berbagai jenis palma tropis masih sangat kurang. Berkaitan dengan hal tersebut pada 7 Desember 2004 di Ruang Komisi Utama BPPT, Balai Pengkajian Bioteknologi BPPT menyelenggarakan Seminar Nasional Sagu dan Palma Penghasil Karbohidrat yang bertema “Konsevasi Sumberdaya Palma Tropis Dalam Rangka Pelestarian dan Pendayagunaannya Sebagai Cadangan Pangan dan Bahan Baku Industri�. Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi, Dr. Wahono Sumaryono, APU, saat membuka seminar mengatakan bahwa seminar bertujuan untuk mempertemukan berbagai pihak pemerhati sagu dan palma agar terjalin komunikasi yang bersinergi sehingga dapat mendukung terlaksananya pemberdayaan sumberdaya alam secara efektif dan diharapkan dapat mendorong para peneliti Indonesia untuk lebih berpartisipasi pada International Sago Symposium ke 8 yang akan diselenggarakan di Jayapura, Agustus 2005. Seminar dihadiri oleh pejabat di lingkungan Kedeputian TAB dan sekitar 75 orang undangan. Para pembicara adalah Dr. Nadirman Haska, APU (Kepala Balai Pengkajian Bioteknologi BPPT), Prof. Yoshinori YAMAMOTO (Kochi University - JAPAN), Gr. Jong Foh Soon (PT National Timber and Forest Product – Riau), Muhammad Salim Saleh, M.P (Univeristy of Tadulako – Palu), Prof. Haryadi (UGM – Yogyakarta), Dr. Benito Heru Purwanto (UGM – Yogyakarta), Dr. A.Z. Fachri Yasin (UNRI – Riau), Jermia Limbongan (BPTP – Papua), Ir. Jasper Louw (BPTP – Papua), Dra. Wa Ode Sifatu (Universitas Haluoleo – Kendari), Dina Akyuni (IPB – Bogor), Irma Wulansari (IPB – Bogor), Ani Farida (IPB), Ir. S. Aida Taridala (Universitas Haluoleo – Kendari) dan Bambang Hariyanto (P3 Teknologi Agroindustri – BPPT). Kepala Balai Pengkajian Bioteknologi BPPT, Dr. Nadirman Haska, APU, yang juga sebagai Ketua Perhimpunan Pendayaguna Sagu Indonesia (PPSI) dalam sambutannya mengatakan bahwa PPSI sangat berupaya mendukung terselenggaranya seminar sagu ini, dikarenakan sagu dan palma merupakan salah satu penghasil karbohidrat yang merupakan kekayaan negeri dan menghendaki perhatian kita bersama dan melalui seminar ini diharapkan terjadinya konsolidasi yang kuat antara peneliti/pemerhati sumber daya alam tropis melalui tukar menukar informasi dan pengalaman serta dapat menghasilkan sumbangsih saran kepada pemerintah dan pihak swasta yang terkait untuk lebih memperhatikan dan memanfaatkan sumberdaya alam penghasil karbohidrat secara optimal dan berkelanjutan.
Sagu sumber karbohidrat yang dilupakan
Jika disimak, sebenarnya Sagu merupakan salah satu komoditi tanaman pangan yang dapat dipergunakan sebagai sumber karbohidrat yang cukup potensial di Indonesia, khususnya di wilayah Provinsi Papua yang masih dimanfaatkan secara optimal. Walaupun demikian, sebenarnya presentase peminat Sagu pun masih terbatas atau semakin berkurang.
0 Tanggapan ke “Sosialisasi Sagu”
Tinggalkan Balasan
Anda harus login untuk menuliskan komentar.